
JejakSolo.com – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) angkat bicara soal kritik yang ditujukan pada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait rencananya untuk kembali blusukan ke seluruh pelosok Indonesia. PSI menilai tidak ada yang keliru dari niat Jokowi untuk menyapa masyarakat dan membantu membesarkan partai.
Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, heran dengan pihak-pihak yang meributkan pengaruh Jokowi pasca-tidak menjabat. Ia menegaskan bahwa Jokowi bukanlah sosok yang sombong atau merasa masih memiliki kuasa penuh di masyarakat.
“Pak Jokowi juga tidak pernah berpikir atau jumawa, atau kemudian mengatakan dia masih punya pengaruh di masyarakat,” ujar Ali saat dihubungi, Kamis (28/5/2026).
Menurut Ali, niat Jokowi keliling Indonesia murni didasari oleh kecintaannya terhadap rakyat. Ia justru mempertanyakan alasan pihak-pihak yang mempermasalahkan perjalanan mantan Presiden tersebut. “Apa sih masalah buat mereka kalau Pak Jokowi berkeliling? Mau ada manfaatnya buat PSI atau tidak, kenapa harus diperdebatkan?” sambungnya.
Batasan yang Jelas: Uang Pribadi vs Uang Negara
Ali justru menegaskan bahwa pihaknya akan langsung menarik garis tegas jika Jokowi melakukan satu hal spesifik: menggunakan anggaran negara atau meminta uang dari anaknya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Ataukah salah kalau Pak Jokowi itu berkeliling? Yang salah itu kalau kemudian dia berkeliling menggunakan dana APBN, minta uang jalan sama Gibran. Nah itu salah itu,” tegas Ali.
Ia menjelaskan bahwa selama perjalanan tersebut didanai oleh uang pribadi Jokowi atau hasil patungan dari sumber mana pun yang tidak melanggar aturan, maka tidak ada yang salah secara etika maupun moral. “Itu adalah hak dia yang juga kita harus hormati,” imbuhnya.
PSI sendiri menyambut hangat keinginan Jokowi yang pada Rakernas Januari 2026 lalu menyatakan siap mati-matian berkeliling untuk membesarkan partai. Ali menekankan bahwa bantuan dari siapa pun, termasuk mantan kepala negara, akan diterima dengan tangan terbuka tanpa memperhitungkan untung rugi politiknya.
Tanggapan Pengamat: Pengaruh Jokowi Dinilai Menurun
Sebelumnya, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, meragukan efektivitas rencana Jokowi ini. Ia menilai posisi politik Jokowi saat ini sudah jauh berbeda. Menurutnya, tingkat kepercayaan publik terhadap Jokowi dinilai mengalami penurunan sehingga dampak elektoralnya tidak akan sebesar dulu.
“Jokowi saat ini bukan lagi menjadi patron, tapi justru sosok yang penuh kontroversial,” kata Jamiluddin.

