
Rahasia Maria Branyas, Manusia Tertua Berusia Biologis 23 Tahun
Bagaimana rasanya hidup lebih dari 117 tahun? Maria Branyas, wanita asal Spanyol, tidak hanya mencapai usia tersebut, tetapi juga menjalaninya dengan sehat. Ia melewati dua perang dunia, pandemi flu 1918, Perang Saudara Spanyol, bahkan selamat dari Covid-19. Tubuhnya menyimpan misteri besar yang baru saja terungkap oleh para ilmuwan.
JejakSolo.com, 31 Mei 2026 – Maria Branyas wafat pada tahun 2024 di usia 117 tahun 168 hari. Sebagai manusia tertua terverifikasi di dunia, ia meninggalkan warisan ilmiah yang luar biasa. Sebuah studi mutakhir yang dipublikasikan di jurnal Cell Reports Medicine (September 2025) akhirnya membedah rahasia di balik umur panjangnya yang sehat. Hasil penelitian ini mengubah cara pandang kita tentang penuaan.
Dualitas Aneh di Tubuh Sang Manusia Tertua
Tim peneliti dari Josep Carreras Leukemia Research Institute yang dipimpin Dr. Manel Esteller menemukan keanehan pada tubuh Maria. Mereka mengambil sampel darah, air liur, urine, hingga feses untuk dianalisis secara mendalam. Hasilnya sungguh di luar dugaan.
Di satu sisi, tubuh Maria menunjukkan tanda-tanda penuaan ekstrem yang sangat jelas. Para ilmuwan melihat bahwa ujung kromosomnya (telomere) terbilang pendek. Sistem kekebalan tubuhnya juga menunjukkan ciri khas peradangan. Ia bahkan memiliki mutasi pada sel punca darah yang biasanya meningkatkan risiko kanker darah dan penyakit jantung.
Namun di sinilah misteri sesungguhnya bermula. Meskipun memiliki semua tanda risiko tersebut, Maria Branyas sama sekali tidak pernah menderita kanker, demensia, atau penyakit jantung sepanjang hidupnya. Tubuhnya berhasil memisahkan proses penuaan dari penyakit kronis pada tingkat molekuler. Kemampuan langka inilah yang membuatnya hidup begitu lama dengan kualitas kesehatan yang terjaga.
Genetik Unggul dan Bakteri Usus yang Melimpah
Apa yang membuat tubuh Maria begitu istimewa? Jawabannya terletak pada kombinasi faktor genetik dan gaya hidup. Tim peneliti menemukan bahwa Maria membawa varian genetik langka. Gen-gen ini terkait langsung dengan kebugaran sistem kekebalan, kesehatan jaringan otak, perlindungan organ jantung, dan fungsi mitokondria yang prima.
Profil darahnya juga menunjukkan keistimewaan. Metabolisme lemak dalam tubuh Maria bekerja sangat efisien. Kadar kolesterol jahat (VLDL dan trigliserida) berada di angka yang sangat rendah. Sebaliknya, kadar kolesterol baik (HDL) melonjak sangat tinggi. Kondisi ini melindunginya dari berbagai penyakit kardiovaskular.
Penemuan paling menarik datang dari analisis mikrobiom ususnya. Para ilmuwan mendapati bahwa bakteri baik bernama Bifidobacterium hidup melimpah ruah di pencernaan Maria. Populasi bakteri ini biasanya menurun drastis pada orang lanjut usia. Namun pada Maria, jumlahnya justru sangat tinggi. Fakta uniknya, selama 20 tahun terakhir hidupnya, Maria rajin mengonsumsi tiga porsi yogurt setiap hari. Kebiasaan sederhana ini diduga kuat menjadi kunci menjaga ekosistem bakteri baik di ususnya, yang pada gilirannya menjaga kadar peradangan kronis tetap rendah.
Kejutan Besar, Usia Biologis Manusia Tertua 23 Tahun Lebih Muda
Puncak dari seluruh penelitian ini adalah temuan yang paling mengguncang dunia sains. Para peneliti menggunakan metode jam epigenetik (epigenetic clocks) untuk mengukur usia biologis Maria. Metode ini melihat pola metilasi DNA untuk menentukan seberapa muda atau tua sel-sel tubuh bekerja.
Hasilnya sungguh mencengangkan. Berdasarkan analisis dari berbagai jaringan tubuh melalui beberapa metode pengukuran, usia biologis sel-sel Maria Branyas ditemukan 23 tahun lebih muda dari usia kronologisnya. Artinya, ketika usianya menembus 117 tahun, sel-sel tubuhnya berperilaku seperti sel milik seseorang yang berusia 94 tahun.
Para ilmuwan menuliskan kesimpulan mereka dengan penuh kegembiraan. Salah satu alasan utama Maria mencapai usia superlanjut adalah karena sel-sel tubuhnya “merasa” dan “berperilaku” seperti sel yang jauh lebih muda. Temuan ini membuka harapan baru bagi dunia medis. Kita kini memiliki biomarker potensial untuk mengukur penuaan sehat. Penelitian ini juga memberikan strategi baru untuk meningkatkan harapan hidup manusia di masa depan.
Tentu, para ilmuwan juga memberikan catatan penting. Profil biologis satu individu tidak bisa menjadi formula ajaib yang berlaku universal untuk semua orang. Fenomena luar biasa yang dialami Maria Branyas merupakan kombinasi langka antara faktor genetika unggul, gaya hidup sehat yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan tentu saja sedikit faktor keberuntungan. Namun, misteri yang terungkap dari tubuh manusia tertua di dunia ini telah membuka pintu menuju pemahaman baru tentang bagaimana kita bisa menua dengan lebih sehat.

