
Ryamizard Ryacudu, Bapak dan Senior yang Hadi Tjahjanto Rindukan di Rumah Duka Cikeas
JejakSolo.com – Rasa rindu yang begitu besar terpancar dari wajah Hadi Tjahjanto saat ia melangkahkan kaki ke rumah duka almarhum Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (31/5/2026) malam. Bukan sekadar kehilangan seorang atasan, Hadi mengaku sangat merindukan sosok yang bagaikan bapak dan senior sejati dalam hidupnya.
Ryamizard Ryacudu bukanlah nama asing di dunia pertahanan dan kemiliteran Indonesia. Ia adalah Menteri Pertahanan yang disegani, seorang jenderal dengan rekam jejak gemilang. Namun bagi Hadi Tjahjanto, almarhum jauh lebih dari itu. Ryamizard adalah guru yang selalu membimbing, senior yang tak pernah pelit nasihat, dan bapak yang selalu hadir di setiap masa sulit.
Kepergian Ryamizard Ryacudu meninggalkan lubang yang sangat dalam di hati Hadi. Di rumah duka, ia berkali-kali menghela napas panjang, seolah tidak percaya bahwa sosok yang begitu dekat dengannya kini telah tiada.
Hadi Tjahjanto: Sosok Ryamizard Ryacudu Selalu Dirindukan
Di hadapan para pelayat dan awak media, Hadi Tjahjanto tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dengan nada suara yang bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menceritakan betapa ia sangat merindukan kehadiran Ryamizard Ryacudu. Setiap nasihat, setiap candaan, dan setiap teguran tegas almarhum kini hanya tinggal kenangan.
“Pada malam hari ini saya betul-betul merasa kehilangan seorang bapak, seorang senior, seorang tokoh yang benar-benar menjadi inspirasi bagi prajurit juniornya seperti saya. Sosok beliau akan selalu saya rindukan,” ujar Hadi dengan suara yang lirih namun penuh penghayatan.
Ia mengaku bahwa tidak ada satu hari pun selama ini ia tidak mengingat Ryamizard. Setiap kali ia menghadapi persoalan rumit, suara almarhum seolah masih terngiang di telinganya, memberi arahan seperti dulu saat mereka masih bekerja bersama.
Kenangan Manis di Kementerian Pertahanan yang Tak Terlupakan
Hubungan antara Hadi Tjahjanto dan Ryamizard Ryacudu tidak terbangun dalam semalam. Ikatan itu terbentuk kuat selama bertahun-tahun, terutama saat Hadi menjabat sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan (Irjen Kemhan). Saat itu, Ryamizard adalah Menteri Pertahanan yang memimpin langsung.
Hadi mengenang betapa almarhum adalah pemimpin yang sangat ramah. Ia tidak pernah sungkan mengajak bicara anak buahnya, bahkan hingga larut malam hanya untuk sekadar memastikan semuanya baik-baik saja.
“Termasuk ketika kami menjabat di TNI, beliau selalu memberikan nasihat-nasihat terbaik untuk tetap menjaga konsistensinya, terus memberikan semangat kepada anak buahnya. Itu pesan abadi beliau kepada saya. Setiap kali saya ingat, hati saya terasa perih karena saya sangat merindukan beliau,” ungkap Hadi dengan nada yang mengharukan.
Menurut Hadi, Ryamizard Ryacudu adalah sosok yang tidak pernah berubah. Ia tetap rendah hati meskipun sudah menduduki jabatan tinggi. Kesederhanaan dan ketulusannya dalam memimpin membuat banyak orang, termasuk Hadi, merasa kehilangan seperti kehilangan anggota keluarga sendiri.
Rumah Duka Cikeas Basah oleh Air Mata Kerinduan
Suasana di rumah duka Cikeas begitu haru dan sarat dengan rasa kehilangan. Bukan hanya Hadi Tjahjanto yang datang, puluhan pelayat dari berbagai kalangan juga turut hadir. Mereka semua memiliki cerita masing-masing tentang kebaikan Ryamizard Ryacudu. Banyak dari mereka yang menangis saat mengenang interaksi terakhir dengan almarhum.
Seorang perwira menengah TNI yang enggan disebutkan namanya mengaku sangat merindukan sosok Ryamizard yang selalu menyapa setiap prajurit tanpa memandang pangkat. “Beliau tidak pernah pilih kasih. Semua prajurit merasa diperhatikan. Itu yang paling saya rindukan dari beliau,” ujarnya sambil menyeka air mata.
Kerinduan itu juga dirasakan oleh masyarakat awam yang datang. Mereka mengenang Ryamizard sebagai tokoh yang berani dan tegas membela kepentingan rakyat. Banyak yang menyebut almarhum sebagai “bapak bangsa” yang rela mengorbankan segalanya untuk keutuhan NKRI.
Warisan Abadi yang Tak Akan Pernah Tergerus Waktu
Bagi Hadi Tjahjanto dan seluruh jajaran TNI, kepergian Ryamizard Ryacudu bukanlah akhir dari segalanya. Mereka bertekad untuk melanjutkan apa yang telah almarhum perjuangkan. Setiap nasihat, setiap pesan moral, dan setiap keteladanan akan terus hidup dalam setiap tindakan mereka.
“Kerinduan saya kepada beliau tidak akan pernah berakhir. Tapi saya yakin beliau tidak ingin kami larut dalam kesedihan. Beliau ingin kami terus maju, terus menjaga konsistensi, dan terus memberikan yang terbaik untuk bangsa ini,” tutup Hadi sebelum akhirnya meninggalkan rumah duka dengan langkah berat.
Ryamizard Ryacudu mungkin telah tiada, tetapi namanya akan tetap abadi sebagai salah satu pahlawan pertahanan Indonesia. Dan bagi Hadi Tjahjanto, almarhum akan selalu menjadi bapak dan senior yang paling ia rindukan sepanjang hidupnya.
Kesimpulan:
Kepergian Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu meninggalkan duka dan kerinduan yang mendalam, terutama bagi Hadi Tjahjanto yang menganggap almarhum sebagai bapak dan senior sejati. Di rumah duka Cikeas, Hadi tidak menyembunyikan perasaannya. Ia dengan jujur mengaku sangat merindukan sosok yang selalu memberi nasihat dan semangat. Seluruh Indonesia ikut berduka dan merindukan keteladanan almarhum.
JejakSolo.com turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Ryamizard Ryacudu, jasa dan keteladananmu akan selalu kami rindukan.

