
JejakSolo.com – Di balik kesuksesan sensasional Como 1907 menembus Liga Champions musim depan, ada cara unik nan inspiratif yang dilakukan sang pelatih, Cesc Fabregas. Di momen-momen krusial perburuan tiket empat besar Serie A, Fabregas memilih seorang pesepeda sebagai sumber motivasi bagi para pemainnya.
Cerita ini terjadi sebelum laga pamungkas yang menentukan, yakni saat Como bertandang ke markas Parma, Minggu (24/5/2026). Fabregas mengaku sengaja menunjukkan sebuah video balap sepeda kepada seluruh skuadnya. Baginya, video itu adalah metafora sempurna dari perjalanan Como sepanjang musim.
“Sepanjang hidup saya, bahkan ketika saya melakukan pergantian pemain, saya hanya memiliki firasat tentang berbagai hal, dan saya memiliki firasat sehari sebelum kami bermain melawan Parma bahwa dengan dua kemenangan, kami akan berada di Liga Champions,” ungkap Fabregas kepada DAZN Italia.
Terinspirasi dari Sprint Terakhir
Video yang dimaksud bukan sekadar hiburan. Fabregas ingin para pemainnya menangkap pesan kuat dari perjuangan tanpa kenal menyerah.
“Saya menunjukkan kepada para pemain sebuah video seorang pesepeda yang berada di posisi keenam, tetapi ia mulai mengayuh pedal dengan kencang di sprint terakhir dan ia memenangkan perlombaan. Itulah yang kami lakukan musim ini,” jelasnya.
Perumpamaan itu sangat relevan. Como memang tidak selalu mulus. Mereka sempat mengalami periode sulit, termasuk dua kekalahan beruntun dan hasil imbang melawan Udinese. Namun, layaknya pesepeda yang menyimpan tenaga untuk ledakan di akhir, Fabregas menanamkan keyakinan bahwa persaingan masih terbuka lebar.
“Kami mengalami beberapa kemunduran, dua kekalahan dan hasil imbang dengan Udinese, jadi kami tahu bahwa kami membutuhkan serangkaian kemenangan, tetapi sensasinya selalu bahwa kami masih dalam persaingan,” kenangnya.
Hasilnya, Como tidak hanya bicara. Mereka menggas habis di sprint terakhir, mengalahkan US Cremonese dengan skor telak 4-1, sementara hasil minor yang menimpa AC Milan di San Siro memuluskan langkah mereka ke Liga Champions.
Mahakarya dari Anak-anak Muda
Bagi Fabregas, pencapaian ini terasa jauh lebih manis karena dilakukan oleh tim yang sangat belia. Como musim ini dihuni oleh banyak pemain muda yang haus akan ilmu dan perkembangan.
“Sangat bagus, karena cara kami melakukannya. Ini adalah skuad yang penuh dengan pemain muda, kami memiliki 15 pemain yang semuanya berusia di bawah 23 tahun, jadi ini adalah mahakarya dari seluruh tim,” puji Fabregas.
Mentalitas dan kemauan belajar skuad mudanya inilah yang menjadi fondasi kokoh keberhasilan mereka. “Mereka mendengarkan, selalu ingin berbuat lebih, meningkatkan standar pada waktu yang tepat,” tambahnya.
Strategi mengandalkan pemain muda ini sejatinya sudah dirancang sejak awal. Sejak promosi ke Serie A dua tahun lalu, pemilik klub Mirwan Suwarso sudah menegaskan bahwa Como akan bergerak efisien dengan memburu pemain-pemain potensial yang sesuai dengan filosofi klub.
Fabregas pun memberikan seluruh hormatnya kepada para pemain yang telah bekerja keras mengeksekusi semua instruksi di lapangan. “Saya hanya bisa memberi hormat kepada para pemain ini, karena kami para pelatih mencoba mendorong mereka, memberi pilihan, memberi tahu mereka di mana ruang kosongnya, tetapi merekalah yang melakukannya di lapangan.”

