
JejakSolo.com – PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 19 persen pada kuartal I tahun 2026. Meski begitu, perusahaan jamu legendaris ini menegaskan bahwa kinerja keuangan tersebut bukanlah cerminan dari melemahnya permintaan pasar. Produk andalan mereka, Tolak Angin, masih menjadi raja di kategori obat herbal masuk angin dengan menguasai 72 persen pangsa pasar.
Direktur Utama Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat, secara blak-blakan menjelaskan bahwa turunnya pendapatan dari Rp789,1 miliar menjadi Rp640,5 miliar ini adalah dampak dari strategi internal. Perusahaan sengaja melakukan penyesuaian persediaan atau inventory adjustment di tingkat distributor untuk menormalkan stok yang sempat menumpuk.
“Penurunan bukan karena permintaan turun, melainkan kami melakukan inventory adjustment. Permintaan pasar di tingkat ritel tetap stabil, bahkan meningkat di sejumlah wilayah,” ujar Irwan.
Penumpukan stok di distributor ini terjadi akibat pola pembelian lama, di mana distributor membeli dalam jumlah besar untuk mengejar insentif dengan harga murah di akhir tahun 2025. Akibatnya, mereka menjual produk di bawah harga resmi, yang berpotensi merusak harga pasar. Kini, Sido Muncul menahan pengiriman untuk menyehatkan rantai distribusi.
Tetap Perkasa di Pasar
Di tengah koreksi keuangan sementara, fakta di lapangan menunjukkan bahwa produk Sido Muncul tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Selain Tolak Angin yang menguasai 72 persen pasar, produk lain juga tak tergoyahkan. Kuku Bima, misalnya, masih mendominasi 51 persen pasar minuman energi. Produk seperti Esemag dan Tolak Linu juga kokoh sebagai pemimpin pasar di kategorinya.
Enam Jurus Menyambut Usia 75 Tahun
Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-75 pada November 2026 mendatang, Sido Muncul telah menyiapkan enam langkah strategis untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang:
- Luncurkan SidoHerbalPedia:Â Sebuah portal edukasi digital untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat pengobatan herbal berbasis riset klinis.
- Riset Hulu:Â Meningkatkan kualitas budidaya tanaman rempah sebagai bahan baku utama.
- Riset Tanaman Obat:Â Mengembangkan penelitian untuk penyakit serius seperti kanker, diabetes, dan peningkatan imunitas.
- Uji Praklinis:Â Memperkuat validasi ilmiah produk-produk yang sudah ada demi meningkatkan kepercayaan konsumen.
- Ekspansi Pasar Ekspor: Menargetkan masuk ke pasar mainstream Arab Saudi dan China. Saat ini, produk Sido Muncul di luar negeri masih banyak dijual di toko-toko Indonesia saja.
- Efisiensi Biaya:Â Menjaga kualitas sambil mengoptimalkan rantai pasok, kemasan, dan biaya promosi.
Tak Terpengaruh Gejolak Dolar
Terkait tantangan eksternal, Irwan optimistis dampak fluktuasi kurs terhadap perusahaannya sangat minim. Pasalnya, sekitar 90 persen bahan baku Sido Muncul berasal dari dalam negeri. Biaya impor hanya menyumbang sekitar 5 hingga 6 persen dari total kebutuhan. Dengan permintaan pasar yang tetap kuat dan posisi merek yang dominan, manajemen yakin dapat mengelola tantangan daya beli dan volatilitas global.

