
JejakSolo.com – Masalah klasik Timnas Indonesia: mandul di depan gawang. Rindu banget sama sosok ujung tombak yang haus gol, yang sekali sentuhan bisa bikin net lawan bergetar.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, paham betul kerinduan itu. Tapi di sela-sela kesibukannya memantau pemain di pekan terakhir Super League, pelatih asal Inggris itu memberi semacam “kuliah singkat” soal filosofi mencetak gol. Pesannya keras: jangan cuma berharap Tuhan kirim Erling Haaland ke Indonesia!
“Halah, Haaland gak jatuh dari langit, Solo!” kira-kira begitu bunyi sindiran halus Herdman saat ditemui awak media di Stadion Madya GBK, Jumat (22/5/2026).
Ole Romeny: Jawaban Sementara yang Langsung Sakit
Herdman mengakui, kehadiran Ole Romeny dulu semacam jadi oase di padang tandus. Dalam tiga laga pertamanya, striker naturalisasi itu selalu bikin gol. Wah, kayaknya masalah no 9 langsung beres.
Tapi nahas, masalah kebugaran menghampiri Ole. Akibatnya, saat Timnas (saat itu masih dilatih Patrick Kluivert) menjalani ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, lini serang kembali mandul. Gol ke gawang Arab Saudi cuma lahir dari penalti Kevin Diks. Lalu kering gol lagi saat dibungkam Irak 0-1. Uji coba kontra Bulgaria bulan Maret lalu pun berakhir dengan kebuntuan yang sama.
Ketergantungan mutlak pada satu sosok jadi boomerang buat Garuda.
Herdman: “Setiap Orang Harus Bisa Cetak Gol!”
Menyikapi itu, Herdman kini punya pendekatan baru. Ia memang sedang mempertimbangkan untuk menggaet amunisi baru dari jalur diaspora. Nama-nama seperti Luke Vickery (Macarthur FC) dan Mitchell Baker (Colorado Rapids) santer disebut bakal segera menjalani proses naturalisasi.
Tapi Herdman tak mau publik dan timnya cuma fokus menunggu “juru selamat” bernomor punggung 9.
“Negara ini terus berbicara tentang nomor sembilan. Padahal, kita butuh mentalitas bahwa setiap orang di tim ini bisa mencetak gol,” tegas Herdman dengan nada serius.
Ia ingin skuat Garuda memiliki banyak senjata. Gol bisa lahir dari kaki gelandang, sayap, bahkan bek sayap yang ikut maju. Ketergantungan pada satu pemain, menurutnya, adalah strategi yang rapuh.
Proses Naturalisasi Berjalan, Tapi Jangan Terlalu Ekspektasi
Soal pemburuan bakat diaspora, Herdman mengaku sejak dia datang sudah mengevaluasi lebih dari 16 pemain. Proses komunikasi terus berjalan, tapi ia belum mau menyebut nama-nama baru.
“Kami akan terus bekerja sama dengan pemain diaspora. Ada proses panjang, banyak orang terlibat. Tapi yang pasti, kami akan memperkuat tim ini,” ujarnya diplomatis.
Pesan Herdman cukup jelas: ayo berhenti bermimpi punya Haaland instan. Mari bangun tim yang kolektif, haus gol, dan tak bergantung pada satu orang. Karena bola itu bundar, dan gol bisa lahir dari siapa saja yang punya nyali!
Solo, setuju gak sama Herdman?
