
JejakSolo.com – Tren lari maraton di kalangan anak muda urban memang sedang meledak-ledaknya. Setiap akhir pekan, media sosial pasti dipenuhi foto medali, rute lari, sampai pose “finish line” yang dramatis.
Tapi di balik gaya hidup sehat dan eksistensi itu, ada bahaya mengintai yang sering diabaikan: memaksakan diri berlari tanpa persiapan yang benar.
Peringatan ini datang dari Iwet Ramadhan, Head of Communication Yayasan Jantung Indonesia, sekaligus seorang pelari. Dalam acara peluncuran tensimeter Omron di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026), ia menyentil keras tren “lari untuk konten”.
“Banyak banget yang kepancing gara-gara pingin bikin konten pelari culture. No, you are not running for the gram or for your social media,” tegas Iwet.
Pesan moralnya: jangan jadikan lari maraton sekadar ajang pamer medsos. Apalagi sampai mengabaikan kesiapan fisik dan medis.
Faktanya: Tubuh Manusia Tak Didesain Lari 42 Km Sembarangan
Iwet mengingatkan bahwa lari maraton (42,195 kilometer) bukan olahraga biasa. Ini adalah ujian ekstrem bagi jantung, sendi, dan otot.
“Tidak ada manusia normal yang didesain untuk lari 42 kilometer. Persiapan menuju maraton itu harus disiapkan badannya dengan latihan fisik,” ujarnya.
Tanpa latihan yang terukur, lari jarak jauh bisa memicu cedera fatal atau bahkan serangan jantung mendadak. Bukan hal asing mendengar kasus pelari muda yang kolaps di tengah jalan.
Ancaman Fibrilasi Atrium: Jantung Kacau Tanpa Disadari
Yang lebih mengerikan, banyak orang merasa sehat dan bugar, padahal punya kelainan irama jantung yang tidak terdeteksi. Salah satunya adalah Fibrilasi Atrium (AFib) , kondisi di mana detak jantung menjadi tidak teratur dan bisa memicu stroke.
dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), menceritakan kasus nyata: seorang atlet maraton berusia 30 tahun yang ternyata pernah mengalami stroke ringan tanpa sadar.
“Pas saya lakukan MRI, ternyata banyak bintik-bintik stroke kecil di otaknya. Karena apa? Karena atrial fibrilasi,” papar dr. Eka.
Pria itu tampak sangat bugar, rutin latihan, bahkan ikut kompetisi. Namun di dalam, jantungnya bermasalah. Kejadian ini menunjukkan bahwa kebugaran fisik bisa menutupi bahaya yang tersembunyi.
Sebelum Pasang Start Line, Cek Jantung Dulu!
Kesimpulannya jelas: jangan hanya sibuk beli sepatu baru atau baju lari yang kekinian. Persiapan maraton yang benar harus dimulai dari pemeriksaan kesehatan menyeluruh, khususnya tekanan darah dan kesehatan jantung.
Cek tensi secara rutin, konsultasi dengan dokter, dan latihan secara bertahap dari jarak pendek dulu. Jangan langsung “all out” ke full marathon hanya karena ikut-ikutan teman atau tergiur medal finisher.
Ingat, finish line sebenarnya bukan hanya garis di aspal, tapi pulang dengan selamat dan sehat.
Jadi, Solo, kalau memang ingin lari maraton, lakukan dengan persiapan yang matang. Jangan sampai gaya hidup sehat berubah jadi petaka hanya karena konten dan gengsi semata. Siapin fisik, cek jantung, baru deh berlari!
