
JejakSolo.com – Angel Di Maria akhirnya membuka lembaran kelam dalam kariernya. Mantan bintang Real Madrid itu secara blak-blakan mengaku sangat membenci periode singkatnya berseragam Manchester United. Sebuah transfer senilai 59,7 juta paun yang berakhir sebagai mimpi buruk, kini diungkapkan penyebabnya oleh sang pemain.
Di Maria datang ke Old Trafford pada musim 2014/2015 dengan ekspektasi setinggi langit. Namun, kombinasi masalah di dalam dan luar lapangan membuat hidupnya di Inggris bagai neraka. Puncaknya adalah hubungannya yang retak dengan sang pelatih, Louis van Gaal, serta insiden percobaan perampokan di rumahnya.
Dihantam Kritik Tanpa Henti oleh Van Gaal
Awalnya, semuanya berjalan mulus. Di Maria mengaku permainannya mengalir dengan baik. Namun, titik balik terjadi saat Van Gaal mulai terus-menerus menyoroti kesalahan-kesalahannya tanpa memberikan apresiasi atas sisi positif yang ia tunjukkan.
“Awalnya semuanya berjalan sangat baik. Permainan saya mengalir. Tetapi setelah mulai bermasalah dengan Van Gaal, semuanya langsung berantakan,” ujar Di Maria.
Ia merasa muak karena setiap sesi evaluasi, pelatih asal Belanda itu hanya fokus pada negatifnya. “Dia tidak pernah menunjukkan hal-hal baik yang saya lakukan, hanya sisi negatif terus-menerus. Lama-lama saya muak,” lanjutnya.
Situasi ini diperparah dengan kartu merah yang ia terima saat melawan Arsenal di Piala FA serta cedera minor yang membuat posisinya di tim utama tergusur.
Rumah Dibobol dan Cuaca yang Menyiksa
Tak hanya di lapangan, kehidupan pribadi Di Maria juga berada di ujung tanduk. Rumahnya di Cheshire menjadi sasaran percobaan perampokan saat ia dan keluarganya sedang berada di dalam. Insiden ini jelas membuat trauma dan rasa tidak aman yang mendalam.
“Kehidupan di sana sangat berbeda. Hari cepat gelap dan cuacanya mulai dingin. Semua masalah datang bertubi-tubi. Ditambah lagi rumah saya sempat dibobol,” kenangnya.
Kesulitan beradaptasi dengan cuaca dan lingkungan di Manchester juga menjadi beban mental tersendiri. Sang istri, Jorgelina Cardoso, bahkan secara terbuka mengaku tidak menyukai kehidupan di Inggris. Ia menyebut orang-orangnya terasa aneh dan makanannya tidak enak.
Kabur ke PSG Tanpa Ikut Tur Pramusim
Merasa sudah tidak betah, Di Maria akhirnya mengambil keputusan drastis di akhir musim. Ia menolak mengikuti tur pramusim klub demi memuluskan kepindahannya ke Paris Saint-Germain. Hubungannya dengan Van Gaal pun benar-benar berakhir dingin.
“Dia bilang saya tidak datang saat pramusim. Padahal sebelumnya saya sudah mengatakan ingin pergi dan tidak akan kembali ke klub,” tegas Di Maria.
Meski masa-masanya di MU berakhir dengan sangat buruk, Di Maria tetap menyimpan rasa hormat pada orang-orang di dalam klub yang telah mendukungnya kala itu. Kini, pengakuannya menjadi pelajaran berharga bahwa tidak semua transfer mahal berakhir dengan kisah sukses di Premier League.

