
JejakSolo.com – Nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Pada awal perdagangan Kamis (28/5/2026), mata uang Garuda kembali tertekan hingga mendekati level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sehari sebelumnya.
Berdasarkan data pasar spot, hingga pukul 09.48 WIB, rupiah Anjlok cukup dalam, yakni sebesar 69 poin atau 0,39 persen ke level Rp17.870 per dolar AS. Sebelumnya, pada Rabu (27/5/2026), rupiah juga ditutup melemah di angka Rp17.801 per dolar AS.
Perang AS-Iran Jadi Biang Kerok
Para analis keuangan sepakat bahwa sentimen global masih menjadi hantu utama yang menghantui rupiah. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS secara agresif terjadi pasca pemerintah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran. Situasi ini memperumit prospek perdamaian di Timur Tengah dan membuat investor asing berbondong-bondong mencari aset aman (safe haven) dalam bentuk dolar.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS yang menguat. Pelemahan rupiah di kisaran Rp17.750-17.900,” ujar Lukman.
Tak hanya faktor global, sejumlah sentimen negatif dari dalam negeri juga turut membebani. Pasar saham domestik yang masih lesu serta tingkat kepercayaan pasar yang belum pulih total membuat posisi rupiah semakin sulit bernapas.
Ancaman Tembus Rp18.000
Senada dengan Lukman, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, juga memberikan proyeksi suram. Ia memperkirakan bahwa rupiah berpotensi mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada akhir bulan ini. Meskipun Bank Indonesia telah melakukan berbagai cara untuk menstabilkan nilai tukar, tekanan eksternal yang begitu kuat sulit untuk dibendung.
Salah satu penyebabnya adalah tingkat imbal hasil obligasi AS yang masih enggan turun karena ketidakjelasan status gencatan senjata antara AS dan Iran. “Ini masalahnya tingkat imbal hasil obligasi AS masih belum mau turun juga, dipicu oleh perdamaian AS Iran yang masih belum diputuskan,” jelas Ariston.
Dari sisi domestik, beban rupiah semakin berat karena kombinasi dari kenaikan harga minyak dunia, keluarnya modal asing dari bursa saham Indonesia, serta tingginya permintaan dolar AS untuk keperluan repatriasi dividen dan pembayaran utang korporasi.

