
Semeru Meletus 33 Kali, Awan Panas Mengepung!
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi pada hari Minggu (31/5/2026). Sepanjang pagi hingga siang, tercatat 33 kali letusan yang menyemburkan kolom abu tebal hingga ketinggian 1.300 meter di atas puncak Kawah Jonggring Saloko.
JejakSolo.com – dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru merinci bahwa rentetan erupsi terjadi sejak pukul 00.00 hingga 12.00 WIB. Petugas PPGA Semeru, Sigit Rian Alfian, mengonfirmasi bahwa letusan dengan tinggi kolom abu paling signifikan teramati pada pukul 08.16 WIB. Kondisi ini langsung mengubah wajah langit di sekitar kawasan lereng tertinggi di Pulau Jawa tersebut menjadi gelap ditutupi abu tebal.
Masyarakat sekitar, terutama di wilayah Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, melaporkan adanya suara gemuruh yang terdengar cukup jelas. Meskipun terlihat dramatis, hingga pukul 13.00 WIB, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang belum menerima laporan adanya kerusakan parah atau korban jiwa akibat letusan kali ini.
Hujan Abu Mengarah ke Malang, Warga Diminta Siaga
Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Insugroho, menyampaikan bahwa meskipun secara material dampak langsung belum ada, pihaknya mulai mengidentifikasi potensi bahaya sekunder. Faktor utama yang menjadi perhatian adalah arah angin. Berdasarkan pantauan di lapangan, hembusan angin saat erupsi bergerak konsisten ke arah barat.
“Belum ada laporan dampak signifikan. Namun, jika melihat arah angin yang terus mengarah ke barat, potensi hujan abu vulkanik diperkirakan akan terjadi di wilayah Kabupaten Malang,” ujar Insugroho. Abu vulkanik yang jatuh di kawasan seperti Kecamatan Tumpang, Jabung, atau Poncokusumo dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut serta merusak tanaman milik petani setempat. BPBD Lumajang pun sudah berkoordinasi dengan BPBD Malang untuk mendistribusikan masker secara preventif.
Status Masih Siaga Level III, Ancaman Lahar Mengintai
JejakSolo.com – Hingga berita ini diturunkan, status aktivitas vulkanik Gunung Semeru tetap berada di Level III atau Siaga. Keputusan ini tidak berubah meskipun frekuensi letusan hari ini terbilang tinggi. Insugroho menjelaskan bahwa masyarakat harus lebih mewaspadai risiko tidak langsung dari erupsi, terutama saat hujan turun di area puncak.
Intensitas letusan yang mencapai 33 kali dalam setengah hari ini dianggap cukup tinggi. Akumulasi material vulkanik berupa pasir dan kerikil hasil letusan sebelumnya kini kembali menebal di lereng. Kondisi ini sangat berbahaya karena jika diguyur hujan deras, material tersebut akan tersapu menjadi banjir bandang yang dikenal sebagai lahar dingin.
“Secara statistik, jumlah letusan yang masih tinggi ini menjadi pemicu utama banjir lahar. Material yang menumpuk bisa langsung terbawa air deras yang mengalir dari puncak,” jelas Insugroho. Ia menekankan bahwa banjir lahar seringkali datang lebih mematikan daripada letusan itu sendiri karena bergerak cepat dan membawa bebatuan besar.
Zona Bahaya: Radius 13 Kilometer di Sektor Tenggara
Pemerintah daerah melalui PPGA Semeru telah mengeluarkan larangan aktivitas di zona berbahaya. Warga dilarang keras memasuki sektor tenggara di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Jarak yang direkomendasikan untuk tidak ada aktivitas manusia adalah hingga 13 kilometer dari puncak. Ini merupakan radius terjauh yang tercatat dalam peta kawasan rawan bencana saat status Siaga.
Lebih lanjut, masyarakat juga diminta menjaga jarak setidaknya 500 meter dari tepian sungai di sepanjang Besuk Kobokan, bahkan jika berada di luar radius 13 kilometer. Hal ini mengingat potensi perluasan awan panas guguran (APG) dan aliran lahar yang bisa memuntir jalan di bantaran sungai. Hujan lebat yang kerap mengguyur wilayah Lumajang dalam beberapa hari terakhir memperbesar kemungkinan terjadinya aliran lahar dingin yang susah diprediksi.
Imbauan untuk Wisatawan dan Pendaki
Merespon situasi ini, pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh jalur pendakian menuju puncak Mahameru. Tidak ada seorang pun yang diizinkan berada di sekitar kawah aktif. Selain itu, masyarakat umum diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun yang berpotensi memicu kebakaran atau terjebak dalam aliran lahar.
“Waspada terhadap potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru,” begitu bunyi imbauan resmi yang terus diulang-ulang oleh petugas melalui pengeras suara di desa-desa rawan bencana. Warga yang rumahnya berada di lereng gunung disarankan untuk menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, makanan, dan masker.
Berbeda dengan letusan eksplosif besar yang terjadi pada Desember 2021 lalu, erupsi kali ini lebih bersifat hembusan abu dengan durasi pendek namun frekuensi tinggi. Namun, masyarakat tetap diingatkan untuk tidak panik namun tetap waspada. Informasi resmi hanya akan disebarluaskan melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan BPBD setempat, sehingga warga tidak perlu percaya pada isu-isu hoaks yang kerap beredar saat bencana terjadi.
Tim JejakSolo.com akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru dan memberikan kabar terbaru jika terjadi peningkatan status atau dampak signifikan di wilayah Lumajang dan Malang. Tetap perhatikan arahan evakuasi dan utamakan keselamatan keluarga.

