
JejakSolo.com – Di balik gemerlapnya bonus dan janji kemenangan instan, judi online atau “judol” telah menyusup sebagai racun mematikan di kalangan pelajar, bahkan hingga ke pelosok desa. Sebuah penelitian yang dilakukan di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengungkap fakta pahit bahwa anak usia SMP dan SMA sudah menjadi korban keganasan mesin slot digital ini.
Moch. Raffy Rizzaldi, seorang alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang kini berada di Jepang, melakukan riset tersebut pada tahun 2023 sebagai syarat kelulusannya. Sebagai warga asli Simo, ia menyaksikan sendiri bagaimana lingkungannya berubah.
“Saya asli sana. Saya melihat kondisi di sekitar saya pas ngobrol, pasti ada aja yang main judol,” kenang Raffy.
Dalam penelitiannya, Raffy mewawancarai langsung lima pelajar yang sudah terjerat, mulai dari siswa SMP kelas IX hingga siswa SMK.
Berawal dari Ajakan Teman dan Godaan Iklan
Mengapa mereka bisa terjerumus? Jawabannya sederhana namun menghantui: pengaruh teman sebaya dan gempuran iklan yang sangat agresif.
Seorang informan yang masih duduk di bangku SMA kelas XI mengaku awalnya tidak pernah terpikir untuk berjudi. Namun, semuanya berubah setelah ia sering mendengar obrolan teman-teman dekatnya saat istirahat di sekolah. Mereka dengan antusias menceritakan keseruan dan ketegangan bermain slot, termasuk bagaimana mereka mendapatkan uang tambahan.
“Awalnya saya ragu, tapi karena sering melihat mereka tampak senang dan kadang-kadang menang banyak, saya akhirnya mencoba juga,” tuturnya.
Sementara itu, informan lain yang merupakan siswa SMK kelas XII mengaku “diserang” oleh iklan judi online yang berkeliaran bebas di media sosial. Tak hanya iklan bergambar, ia juga terpengaruh oleh gaya hidup mewah yang dipromosikan oleh para influencer.
“Setiap kali saya membuka platform sosial saya, iklan-iklan judi dengan penawaran bonus besar dan janji kesenangan terus muncul di feed saya. Melihat kesuksesan yang mereka tampilkan, saya merasa tertarik dan akhirnya tergoda untuk mencoba,” terangnya.
Dampak Fatal: Gadai Laptop hingga Jadi Buruh
Racun judol ini tidak hanya merusak mental, tetapi juga menghancurkan ekonomi para pelajar. Hasil penelitian Raffy menyoroti konsekuensi yang sangat mencekik. Para pelajar ini terpaksa melakukan berbagai cara untuk menutupi kerugian dan mendapatkan modal kembali untuk “ngeslot”.
Beberapa di antaranya bahkan rela mencari pekerjaan sampingan. Lebih parah lagi, barang-barang berharga milik pribadi, termasuk laptop yang seharusnya digunakan untuk menunjang pendidikan, terpaksa digadaikan. Ini adalah bukti nyata betapa destruktifnya candu judi online terhadap masa depan generasi muda.
Penelitian ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Bahwa ancaman judi online sudah masuk ke lini paling rentan di masyarakat dan sudah saatnya menjadi perhatian serius semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah.

