
JejakSolo.com – Tren kendaraan listrik di Indonesia ternyata gak cuma berhenti di mobil pribadi atau motor. Kini, para operator bus mulai melirik penggunaan bus listrik untuk jalur antarkota. Keren, kan?
Tapi jangan bayangkan perjalanan Jakarta-Surabaya pakai bus listrik semudah colok HP ya, Sob. PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) selaku pelaku industri, mengingatkan ada pekerjaan rumah (PR) besar yang mesti segera dirampungkan pemerintah.
Bukan Teknologinya, tapi Infrastruktur Cas-nya
President Director DCVI, Naeem Hassim, dengan blak-blakan bilang bahwa saat ini masalah utamanya bukan di teknologi bus listriknya. Tapi di ekosistem pengisian daya alias SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum).
“Satu-satunya hal yang masih saya khawatirkan adalah seperti apa ekosistemnya nanti? Bagaimana ekosistem tersebut bekerja?” ujar Naeem di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Sepanjang tol Trans-Jawa, SPKLU memang sudah mulai menjamur di rest area. Sayangnya, fasilitas itu mayoritas didesain untuk mobil penumpang pribadi. Bukan untuk bus besar atau truk.
Mobil listrik butuh tempat cas cepat. Tapi bus butuh tempat cas yang super cepat dan dengan daya yang jauh lebih besar, plus area manuver yang cukup. Kalau rest area penuh oleh mobil pribadi yang sedang cas, bus mau parkir di mana?
Antre Cas Bisa Kacaukan Jadwal Penumpang
Naeem pun memberi gambaran. Coba bayangkan, sebuah bus komersial jurusan Jakarta-Bandung harus melakukan booking tempat cas dulu di tengah perjalanan karena tidak tahu apakah SPKLU di rest area sedang penuh antrean.
“Ini masalah yang juga terjadi di berbagai negara. Untuk bisnis transportasi umum, ketidakpastian seperti ini bisa mengacaukan jadwal dan merugikan banyak penumpang,” tegasnya.
Solusi yang dia tawarkan sebenarnya sederhana: pemerintah perlu membangun SPKLU khusus kendaraan niaga (bus dan truk) di sepanjang tol utama, seperti Trans-Jawa dan Trans-Sumatra.
“Jika pemerintah membangun semua charging station khusus kendaraan niaga di sepanjang jalan tol utama, sebenarnya kita sudah menyelesaikan sebagian besar masalahnya,” tandas Naeem.
Bisnis Operator Bus: Sensitif Harga Tiket
Selain infrastruktur, ada tantangan lain yang gak kalah pelik: harga tiket. Penumpang bus antarkota itu sangat sensitif dengan harga. Sedikit naik, mereka bisa beralih moda transportasi lain.
Buat pengusaha bus, prinsipnya sederhana: bus harus penuh. Setiap kursi kosong adalah kerugian. Jika biaya operasional bus listrik (termasuk investasi unit dan biaya cas) tidak efisien, maka harga tiket otomatis melambung.
“Setiap kursi yang kosong adalah kerugian,” jelas perwakilan DCVI.
Nah, di sinilah peran vital pemerintah. Mereka diminta memberikan insentif khusus, tidak hanya untuk mobil pribadi, tapi juga untuk operator bus atau produsen bus listrik (OEM). Tujuannya satu: menjaga harga tiket tetap terjangkau bagi masyarakat luas.
Jadi, Mungkinkah Bus Listrik Antar Kota Terwujud?
Secara teknologi, semua pihak optimistis. Tapi tanpa infrastruktur SPKLU yang memadai dan kebijakan insentif yang tepat, bus listrik jarak jauh hanya akan jadi wacana manis di atas kertas.
Semoga pemerintah segera bergerak. Jangan sampai kita ketinggalan zaman. Solo, siap naik bus listrik ke Bandung?
