
JejakSolo.com – Sebuah kisah pilu datang dari Surabaya. Seorang pengusaha harus kehilangan uang miliaran rupiah bukan karena perampokan, melainkan karena ia terlalu percaya pada orang terdekatnya. Sosok terapis spa langganannya justru berubah menjadi ancaman terbesar bagi keamanan finansialnya.
Tonny Soegiono (korban) mengalami kerugian hingga Rp 1,285 miliar. Pelaku utamanya adalah Nur Hasannah Prasetya, seorang terapis spa yang bekerja di Superior Spa, Jalan HR Muhammad Square Blok D Nomor 1, Surabaya. Aksi ini ia lakukan dengan bantuan rekannya, Putriana Kusuma Wardani, yang saat ini masih dalam daftar pencarian orang (DPO).
Korban dan pelaku awalnya memiliki hubungan profesional yang hangat. Tonny sering meminta pijatan dan merasa nyaman dengan pelayanan Nur. Seiring waktu, hubungan mereka berkembang menjadi lebih dekat. Mereka bahkan sering bepergian bersama di luar jam kerja spa.
Modus Titip Ponsel Saat ke Toilet
Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Surabaya, Hasanudin Tandilolo, membeberkan detail kelicikan pelaku di persidangan. Modus operandi mereka sangat sederhana namun mematikan. Pelaku memanfaatkan momen ketika korban pergi ke toilet.
“Karena sering meluangkan waktu bersama, korban menaruh kepercayaan tinggi kepada terdakwa,” ujar Hasanudin saat membacakan dakwaan, Senin (25/5/2026).
Saat akan ke toilet, Tonny kerap menitipkan ponselnya kepada Nur Hasannah. Tonny tidak menyadari satu rahasia besar: di dalam casing ponsel itu ia menyelipkan kartu ATM BCA Prioritas hitam miliknya, lengkap dengan KTP.
Nur Hasannah dan Putriana dengan cepat mengambil kesempatan. Saat Tonny berada di toilet, mereka dengan sigap mengambil kartu ATM dari casing ponsel. Mereka lalu mentransfer uang ke rekening pribadi Nur dan rekening Putriana. Setelah selesai, mereka mengembalikan kartu ATM ke posisi semula. Tonny pun tidak menaruh curiga sedikit pun.
Dikuras Bertahap Puluhan Juta Sehari.
Pencurian ini tidak terjadi sekali atau dua kali. Aksi berlangsung lama dan sistematis sejak 8 Agustus hingga 24 September 2024. Pelaku mentransfer uang dengan nominal bervariasi, mulai Rp 5 juta, Rp 20 juta, hingga batas maksimal transfer harian sebesar Rp 50 juta.
Baru pada 25 September 2024, Tonny mencium keanehan. Ia memutuskan untuk mencetak mutasi rekening di Bank BCA KCU Rungkut Industri. Hasilnya mengejutkan: saldo rekening Prioritas miliknya hampir habis tak bersisa.
“Aksi ini baru disadari oleh saksi Tonny Soegiono pada 25 September 2024, saat korban mencetak mutasi rekening di Bank BCA KCU Rungkut Industri dan mendapati saldo rekeningnya telah terkuras habis,” imbuh Hasanudin.
Uang Miliaran Habis untuk Foya-foya Dua Bulan.
Uang Rp 1,285 miliar yang lenyap dalam waktu singkat itu ternyata tidak disimpan pelaku. Mereka menghabiskannya untuk gaya hidup mewah dalam kurun waktu dua bulan. JPU Hasanudin Tandilolo menjelaskan bahwa uang tersebut mengalir deras untuk menginap di hotel bintang lima dan membeli perhiasan.
“Bahwa uang sebesar Rp 1,2 miliar lebih itu telah habis terdakwa gunakan untuk menginap di Hotel Shangri-La dan membeli sejumlah perhiasan,” papar Hasanudin.
Data dakwaan menunjukkan, Nur Hasannah dan Putriana berulang kali memesan kamar tipe Deluxe hingga Executive di Hotel Shangri-La Surabaya sepanjang Agustus hingga September 2024. Mereka juga membeli emas dan perhiasan mahal lainnya tanpa merasa bersalah.
Kisah ini menjadi pelajaran pahit bagi banyak orang. Kepercayaan adalah hal berharga, namun menyimpan data penting seperti kartu ATM di tempat yang mudah dijangkau orang lain sangat berisiko. Modus memanfaatkan momen saat korban ke toilet ini pun terbilang unik dan jarang terjadi.
Hingga berita ini dirilis, pihak kepolisian masih terus memburu Putriana Kusuma Wardani. Sementara itu, Nur Hasannah Prasetya menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya. Ia dijerat dengan pasal berlapis tentang pencurian dengan pemberatan dan perbankan.
JejakSolo.com mengingatkan para pembaca untuk selalu waspada. Jangan pernah menitipkan barang berharga, terutama kartu ATM dan dokumen penting, kepada siapa pun meskipun orang tersebut sudah dekat atau terpercaya. Simpan selalu barang pribadi di tempat aman, terutama saat bepergian atau menggunakan jasa layanan publik.
Kesimpulan:
Kasus ini membuka mata publik bahwa modus kejahatan perbankan tidak selalu melalui skimming atau rekayasa digital. Terkadang, cara paling sederhana seperti memanfaatkan momen ke toilet justru menjadi celah terbesar. Para pelaku menggunakan kedekatan emosional untuk membongkar pertahanan korbannya. Masyarakat perlu belajar dari pengalaman Tonny Soegiono: satu momen kecil kelengahan bisa mengakibatkan kerugian bertahun-tahun.

